Penggunaan Tanda Baca

2. Hakikat Penggunaan Tanda Baca
Tanda baca merupakan tanda atau simbol yang digunakan dalam kegiatan menulis surat karena tanda baca itu salah satu cara untuk mengefektifkan menulis surat. Adapun tujuan pengajaran penggunaan tanda baca di SD adalah agar siswa mampu memahami, megetahui dan menggunakan simbol dalam berbagai tulisan.
Penggunaan tanda baca sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi kita. Yang mana simbol yang terdapat dalam tanda baca seperti; tanda titik, tanda koma, tanda Tanya, tanda seru, tanda titik dua, dan sebagainya. Simbol-simbol itu melambangkan secara runtut sehingga idem gagasan,pikiran penulis tertuang dengan baik dan benar. Tetapi walaupun demikian, masih banyak orang yang belum mampu menggunakan tanda baca itu khususnya dalam menulis surat resmi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Abdul Chaer yang menyatakan bahwa: “Penggunaan tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan dalam bahasa tulis agar kalimat-kalimat yang kita tulis dapat dipahami orang persis seperti yang kita maksudkan.”
Menurut Henri Guntur Tarigan mengatakan bahwa: “Penggunaan tanda baca adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.”
Sedangkan menurut Bujur Surbakti bahwa: “Penggunaan tanda baca Bahasa Indonesia adalah kaidah-kaidah yang melukiskan lambang-lambang yang terdapat dalam surat.”
Menurut pendapat E. Kosasi mengatakan bahwa: “Penggunaan tanda baca adalah lambang atau simbol yang dapat menyatakan sesuatu serta memahami isi dari apa yang ditulis.”
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan tanda baca merupakan gambaran dari buah pikiran yang dituangkan dalam sebuah tulisan, sehigga pembaca lebih mudah memahami isi dari tulisan tersebut.
Penggunaan tanda baca dapat dibagi lima belas jenis yaitu: 1) Penggunaan tanda titik, 2) Penggunaan tanda titik, 3) Penggunaan titik koma, 4) Penggunaan tanda koma, 5) Penggunaan tanda penghubung, 6) Penggunaan tanda pisah, 7) Penggunaan tanda seru, 8) Penggunaan ellipsis, 9) Penggunaan tanda Tanya, 10) Penggunaan tanda seru, 11) Penggunaan tanda petik, 12) Penggunaan tanda petik tunggal, 13) Penggunaan tanda miring, 14) Penggunaan tanda penyingkat, 15) Penggunaan tanda ulang.
Akan tetapi dari kelima belas bentuk tulisan di atas yang diteliti penulis hanya lima jenis saja, yaitu: 1) Penggunaan tanda titik, 2) Penggunaan tanda titik dua, 3) Penggunaan garis miring, 4) Penggunaan tanda koma, 5) Penggunaan tanda penghubung, karena hanya kelima penggunaan tanda baca inilah yang dipelajari dikelas V SD.
1) Penggunaan Tanda Titik ( . )
Penggunaan tanda titik merupakan tanda yang dipakai pada akhir kalimat dan akhir singkatan dengan ketentuan dan pengecualian.
Menurut pendapat Anggota IKAPI bahwa: “Penggunaan tanda titik adalah tanda yang dipakai di akhir kalimat yang buka pertanyaan atau seruan.” Sedangkan menurut E. Kosasi mengatakan bahwa: “Penggunaan tanda titik adalah untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika kalimat itu mengiringi kalimatnya.”
Dari pendapat di atas bahwa penggunaan titik adalah bukan hanya akhir kalimat tetapi juga dipakai untuk gelar, angka satuan dengan ribuan. Berikut disajikan beberapa contoh penggunaan tanda titik.
a. Pada akhir kalimat yang bukan kalimat seru atau kalimat tanya.
Contoh:
Nyonya Indira Gandi.
Menlu Mochtar berangkat ke Papua Nugini.

b. Pada akhir singkatan nama orang.
Contoh:
R.A. Kartini
W.R. Supratman

c. Pada akhir singkatan kata yang menyatakan gelar, jabatan, pangkat, atau sapaan.
Contoh:
Prof. : Professor
Drs. : Doktorandus
S.H. : Sarjana Hukum

d. Pada singkatan kata atau yang sudah lazim.
Contoh:
a.n. : Atas nama
Yth. : Yang terhormat

e. Dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagian, ikhtisar atau daftar.
Contoh:
1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang

f. Untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Contoh:
Pukul 1.30.15 (Pukul 1 lewat 30 menit 15 detik)

g. Untuk memisahakan angka ribuan, jutaan dan seterusnya yang menunjukkan jumlah.
Contoh:
Hadiah pertama Rp. 500.000,00
Tanda baca titik tidak digunakan:
a. Pada singkatan yang terdiri dari huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah lazim.
Contoh:
ABRI
MPR
DPR
b. Pada singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
Contoh:
CU : Kupram
CM : Pangjangnya 10 cm lebih sedikit
Kg : Beratnya 100 Kg
Rp : Harganya Rp. 2.600,00

c. Pada akhir judul yang merupakan judul karangan, kepala ilustrasi, tabel.
Contoh:
– Anak perawan disarang penyamun
– Jumlah siding umum MPR sebanyak 230 orang

d. Dibelakang alamat pengirim tanggal surat atau nama dan alamat pengirim surat.
Contoh:
Jakarta 17 Agustus 2009
Yth. Sdr. Hasanuddin
Jalan Setia Budi 118
Bandung

2) Penggunaan Titik Dua ( : )
Penggunaan tanda titik dua adalah tanda yang sering dipakai dalam sebuah teks sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan dan sebagainya.
Menurut pendapat Anggota IKAPI bahwa: “Penggunaan tanda titik dua adalah tanda yang dapat pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian”. Sedangkan menurut E. Kosasi bahwa: “Penggunaan tanda titik dua adalah tanda yang dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian”.
Dari pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan tanda titik dua adalah rangkaian kata yang membutuhkan pemerian dari suatu pernyataan.
Tanda titik dua digunakan:
a. Pada akhir suatu pernyataan lengkap, yang diikuti suatu pemerian.
Contoh:
Fakultas sastra itu mempunyai empat jurusan yaitu: Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Arab, dan Sastra Cina.

Tetapi kalau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan, maka tidak dipakai titik dua.
Contoh:
Fakultas sastra itu mempunyai jurusan Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Arab, dan Sastra Cina.

b. Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Hari : Senin
Tanggal : 19 September
Tempat : Ruang Sidang
Acara : Pembentukan Panitia Ujian

c. Dalam teks drama sesudah kata yang memerlukan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Ibu : Bawa koper ini, Mir
Amir : Baik, Bu.
Ibu : Jangan lupa, letakkan baik-baik.

d. Diantara jilid atau nomor halaman.
Contoh: Tempo, 1/2009/34:7
e. Diantara Bab dan Ayat dalam Kitab Suci.
Contoh: Matius 16: ayat 1
f. Diantara judul dan anak suatu karangan, dan diantara nama penerbit dengan kata tempat penerbit.
Contoh: Drs. M. Ramlan, Morfologi: Suatu Tinjauan
3) Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring adalah tanda atau pembatas yang digunakan dalam penulisan surat dan alamat surat.
Menurut pendapat E.Kosasi mengatakan bahwa: “Tanda garis miring adalah tanda yang dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penanda masa tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim”.
Sedangkan menurut pendadat Abdul Chaer bahwa: “Tanda garis miring adalah sebagai pengganti kata, dan, per, atau nomor pada alamat kode surat.”
Dari pendapat di atas, dapat disimpulakn bahwa tanda garis miring adalah tanda yang sering digunakan dalam penulisan surat.
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun kawin.
Contoh:
No: 18/PK//IV/2005
Jalan Melati IV/10
Tahun Anggaran 2006/2007

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tanda baca merupakan bagian sangat penting peranannya terhadap keterampilan menulis khususnya menulis surat resmi.

4) Penggunaan Tanda Koma ( , )
Penggunaan tanda koma adalah sebuah simbol yang digunakan sebagai simbol yang digunakan sebagai pemisah kalimat setara.
Menurut pendapat E. Kosasi mengatakan bahwa penggunaan tanda koma adalah tanda yang dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat termasuk didalamnnya oleh karena itu, jadi lagi pula, meskipun, akan tetapi” .
Sedangkan menurut pendapat Abdul Chaer bahwa: “Tanda koma adalah untuk memisahkan bagian-bagian kalimat majemuk setara yang dihubungkan menyatakan pertantangan seperti seperti, tetapi, dan sedangkan”.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tanda koma adalah tanda atau simbol yang digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat majemuk setara.
Tanda koma digunakan:
a. Diantara unsur-unsur dalam surat suatu pemerian atau pembilang.
Contoh: Adik membawa piring, gelas, dan teko.
b. Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat majemuk setara yang dihubungkan dengan kata penghubung yang menyatakan pertentangan seperti tetapi dan sedangkan.
Contoh:
Saya ingin pergi, tetapi tidak punya uang.
Dia bukan anak saya, melainkan anak Pak Ahmad
c. Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat itu mendahului induk kalimat.
Contoh: Kalau dia datang, saya akan datang
Tetapi kalau anak kalimatnya tidak mendahului induk kalimat, maka koma tidak dipakai.
Contoh: Dia lupa janjinya karena terlalu sibuk
d. Dibelakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat seperti: jadi, lagi pula, oleh karena itu, akan tetapi, meskipun bergitu.
Contoh:
Jadi, soalnya tidaklah semudah itu, oleh karena itu kita harus hati-hati, akan tetapi, dia tetap harus bertanggung jawab.

e. Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: “Saya gembira sekali karena kamu lulus ujian,” kata ibu.
f. Di depan angka persepuluhan dan diantara rupiah dengan sen.
Contoh: Rp. 125,50
g. Diatara nama orang atau gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakannya dari singkatan nama keluarga atau marga.
Contoh: Moh. Bakri, S.H. (S.H: Sarjana Hukum)
h. Untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
Contoh: Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali.
i. Untuk menceritakan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh: Siregar, Merari, Azab dan Sengsara, Jakarta, Balai Pustaka 1954.
5) Penggunaan Penghubung ( – )
Tanda penghubung digunakan untuk menyambung suku kata yang terpisah. Menurut pendapat E. Kosasi, mengatakan bahwa: “Penggunaan tanda penghubung adalah tanda yang dipakai menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris”.
Sedangkan menurut pendapat Abdul Chaaer bahwa: “Tanda penghubung adalah tanda untuk menyambungkan bagian-bagian bentuk tulang dan kata ulang”.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tanda baca penghubung adalah tanda atau simbol yang digunakan untuk memenggal dan menyambung satu suku kata dalam sebuah kalimat.
1. Untuk menyambung suku-suku yang terpenggal oleh perpindahan baris.
Contoh: ………………..menerus-
kan pembangunan.

2. Untuk menyambung bagian-bagian tanggal.
Contoh; Lahir Tanggal 12-05-2003
3. Untuk menyambungkan huruf-huruf yang dieja satu persatu.
Contoh:
P-a-n-i-t-i-a
P-e-m-b-a-n-g-u-n-a-n

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan tanda baca merupakan simbol atau lambang-lambang yang menggambarkan suatu bahasa yang sangat penting peranannya terhadapa keterampilan menulis khususnya menulis surat resmi.

About ruslibintang

mahasiswa STKIP "Tapanuli Selatan" Padangsidimpuan, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Angkatan 2008
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s